Al Mujaadilah ayat 11 : Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: ”Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan :”Berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui yang kamu kerjakan..

Santunan Anak Yatim Dhuafa

Jumadil Akhir 1437H / April 2016, Pondok Labu, Cilandak, Jakarta Selatan.

Sahabat Majelis Ilmu

Foto bersama bulan Ramadhan 2013

Sahabat Majelis Ilmu 114 di Taman Mini Indonesia Indah

Silaturahim Bulanan Ke-2 Majelis Ilmu 114 pada Bulan Februari 2014

Wednesday, November 21, 2018

PENERIMA MANFAAT BULAN AGUSTUS 2018

Bismillah ar-Rahman ar-Rahim.

Assalammu’alaikum Warahmatullahi Wabarakahtuh.

Alhamdulillahi Rabbil Alamin, Shalawat dan Salam kepada Rasulullah SAW beserta Para Pengikutnya, Umat Islam.

Pada bulan Dzulqadah 1439H / Agustus 2018, penyaluran dana Baitul Mal MI-114 telah diberikan kepada 5 orang Anak Yatim Dhuafa di daerah Jakarta Selatan.

Terima kasih kepada Para Sahabat Majelis dan Jama’ah Masjid Al-Mu’minun, khususnya Para Donatur yang telah memberikan dukungan untuk Pengembangan Majelis dan kepada Rohis PPDPP yang memfasilitasi penyaluran.

InsyaAllah setiap amal kita bernilai ibadah dan membawa barakah yang besar dan banyak untuk kita dan keluarga kita.

Walhamdulillahi Rabbil Alamin.

Salam ShemangatzZz.

Imam Majelis Ilmu 114.

* * *


Thursday, August 23, 2018

PENERIMA MANFAAT BULAN JULI 2018


Bismillah ar-Rahman ar-Rahim.

Assalammu’alaikum Warahmatullahi Wabarakahtuh.

Alhamdulillahi Rabbil Alamin, Shalawat dan Salam kepada Rasulullah SAW beserta Para Pengikutnya, Umat Islam.

Pada bulan Syawal 1439H / Juli 2018, penyaluran dana Baitul Mal MI-114 telah diberikan kepada 2 orang Pengurus Masjid di daerah Kebayoran Baru Jakarta Selatan.

Terima kasih kepada Para Sahabat Majelis dan Jama’ah Masjid Al-Mu’minun, khususnya Para Donatur yang telah memberikan dukungan untuk Pengembangan Majelis. InsyaAllah setiap amal kita bernilai ibadah dan membawa barakah yang besar dan banyak untuk kita dan keluarga kita.

Walhamdulillahi Rabbil Alamin.

Salam ShemangatzZz.

Imam Majelis Ilmu 114.

* * *



PENERIMA MANFAAT BULAN JUNI 2018


Bismillah ar-Rahman ar-Rahim.

Assalammu’alaikum Warahmatullahi Wabarakahtuh.

Alhamdulillahi Rabbil Alamin, Shalawat dan Salam kepada Rasulullah SAW beserta Para Pengikutnya, Umat Islam.

Pada bulan Ramadhan 1439H / Juni 2018, penyaluran dana Baitul Mal MI-114 telah diberikan kepada 3 orang Mustahiq: Lansia, Montir, dan Pemulung Sampah di daerah Jatinegara Jakarta Timur dan Grogol Jakarta Barat.

Terima kasih kepada Para Sahabat Majelis dan Jama’ah Masjid Al-Mu’minun, khususnya Para Donatur yang telah memberikan dukungan untuk Pengembangan Majelis. InsyaAllah setiap amal kita bernilai ibadah dan membawa barakah yang besar dan banyak untuk kita dan keluarga kita.

Walhamdulillahi Rabbil Alamin.

Salam ShemangatzZz.

Imam Majelis Ilmu 114.

* * *




Friday, June 15, 2018

PENERIMA MANFAAT BULAN MEI 2018

Bismillah ar-Rahman ar-Rahim.

Assalammu’alaikum Warahmatullahi Wabarakahtuh.

Alhamdulillahi Rabbil Alamin, Shalawat dan Salam kepada Rasulullah SAW beserta Para Pengikutnya, Umat Islam.

Pada bulan Sya’ban 1439H / Mei 2018, penyaluran dana Baitul Mal MI-114 telah diberikan kepada 7 orang Anak Yatim Dhuafa dari daerah Lebak Bulus Cilandak Jakarta Selatan.

Terima kasih kepada Para Sahabat Majelis dan Jama’ah Masjid Al-Mu’minun, khususnya Para Donatur yang telah memberikan dukungan untuk Pengembangan Majelis. InsyaAllah setiap amal kita bernilai ibadah dan membawa barakah yang besar dan banyak untuk kita dan keluarga kita.

Walhamdulillahi Rabbil Alamin.

Salam ShemangatzZz.

Imam Majelis Ilmu 114.

* * *


Sunday, June 10, 2018

NILAI-NILAI RAMADHAN DALAM PEMBINAAN KELUARGA DAN INSAN YANG BERTAQWA

TAQWA
Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. Al baqarah (2) Ayat 183). Orang yang sukses dalam menjalani Puasa Ramadhan adalah kita yang istiqamah dalam ibadah dengan ikhlas dan sesuai tuntunan Syariat, mulai sejak bulan Ramadhan sampai Ramadhan berikutnya. Ramadhan yang berhasil adalah ketika kita bisa menjalankan semua perintah Allah SWT dan Rasul-Nya serta menjauhkan diri agar tidak berbuat dan mendekati hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT dan Rasul-Nya. Tidak berhenti hanya di bulan Ramadhan, tetapi konsisten dan terus meningkat pasca Ramadhan.
BERTANGGUNGJAWAB DAN IHSAN
Allah SWT berfirman: “(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barang siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al baqarah (2) Ayat 184). Dalam ayat ini kita dituntun menjadi insan yang bertanggungjawab. Puasa adalah wajib, dan bagi yang meninggalkan puasa, maka harus bertanggungjawab dengan cara mengganti puasanya, berpuasa setelah Ramadhan sebanyak hari yang ditinggalkan atau bagi mereka yang sudah tidak mampu berpuasa, maka wajib membayar fidyah . Selain itu, melalui ayat ini, Islam menuntun kita menjadi orang yang senantiasa termotivasi untuk memberi yang lebih baik, memberi di atas standar, sebagaimana ayat menyebutkan: "Barang siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya".
MEMUDAHKAN DAN JANGAN MEMPERSULIT, PERBANYAK DZIKIR DAN BERSYUKUR
Allah SWT berfirman: “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al baqarah (2) Ayat 185).
OPTIMAL DALAM PENGENDALIAN DIRI
Allah SWT berfirman: “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan Puasa bercampur dengan istri-istri kamu; mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri`tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.” (QS. Al baqarah (2) Ayat 187). Dengan puasa Ramadhan, seorang Muslim dilatih untuk mampu menahan diri dari hal-hal yang dihalalkan. Makan, minum, dan berhubungan suami istri pada prinsipnya adalah halal, tetapi dalam bulan ramdhan, semua itu ditahan, semua itu dikendalikan. Jika seorang Muslim mampu mengendalikan diri dari hal-hal yang dihalalkan, maka insyaAllah pasca Ramadhan kita akan mampu mengendalikan diri dari hal-hal yang diharamkan.
BERBAKTI KEPADA ORANG TUA, PERBANYAK SHALAWAT, DAN JANGAN SIA-SIAKAN RAMADHAN
Al-Imam ath-Thabrani meriwayatkan dari Ka’ab bin ‘Ujrah r.a : “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari menuju mimbar, ketika Beliau naik ke anak-tangga pertama, beliau berkata, ‘Aamiin.’. Lalu beliau naik lagi ke anak-tangga kedua dan berkata, ‘Aamiin.’. Lalu beliau naik lagi ke tangga yang ketiga dan berkata, ‘Aamiin.’. Ketika beliau turun dari mimbar dan selesai berkhutbah, kami berkata, ‘Wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami telah mendengar sebuah perkataan darimu pada hari ini.’. Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Kalian mendengarkannya?’. Mereka menjawab, ‘Benar.’. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Sesungguhnya Jibril menampakkan dirinya ketika aku sedang menaiki tangga, lalu ia berkata, ‘Rahmat Allah jauh bagi orang yang menemukan kedua orang tuanya di waktu tua atau salah satunya, lalu ia tidak memasukkannya ke dalam Surga.’ Rasulullah berkata: ‘Lalu aku berkata, ‘Aamiin.’’. Jibril berkata, ‘Rahmat Allah jauh bagi orang yang ketika namamu disebutkan tetapi ia tidak bershalawat kepadamu.’ Lalu aku berkata, ‘Aamiin.’. Jibril berkata, ‘Rahmat Allah jauh bagi orang yang menemukan Ramadhan tetapi ia tidak diampuni.’ Lalu aku berkata, ‘Aamiin.’”. [Hadits Riwayat ath-Thabrani].
“Dan Rabb-mu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkan-lah kepada mereka perkataan yang mulia.” [Al-Qur’an Surah Al-Israa’: 23].
TERUS BERBUAT BAIK JANGAN BERBUAT BURUK, KARENA TIDAK ADA PERBUATAN BURUK YANG MENGHASILKAN KEBAIKAN
“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri,…..” [Al-Qur’an Surah Al-Israa’ : 7].
TEBAR MANFAAT, JADILAH ORANG YANG BERMANFAAT
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ nomor:3289).
* * *
Cuplikan dalil pokok-pokok Ceramah yang disampaikan oleh Pengurus Majelis Ilmu 114: Muhammad Nauval Al – Ammari di daerah Duren Sawit, Jakarta Timur, pada tanggal 9 Juni 2018.

Tuesday, May 22, 2018

PENERIMA MANFAAT BULAN MARET-APRIL 2018

Bismillah ar-Rahman ar-Rahim.
Assalammu’alaikum Warahmatullahi Wabarakahtuh.

Alhamdulillahi Rabbil Alamin, Shalawat dan Salam kepada Rasulullah SAW beserta Para Pengikutnya, Umat Islam.

Pada bulan Jumadil Akhir-Rajab 1439H / Maret-April 2018, penyaluran dana Baitul Mal MI-114 telah diberikan kepada 3 orang Mustahiq terdiri dari 2 orang Cleaning Service dan 1 orang Petugas Kebersihan di daerah Kebayoran Baru Jakarta Selatan.

Terima kasih kepada Para Sahabat Majelis dan Jama’ah Masjid Al-Mu’minun, khususnya Para Donatur yang telah memberikan dukungan untuk Pengembangan Majelis. InsyaAllah setiap amal kita bernilai ibadah dan membawa barakah yang besar dan banyak untuk kita dan keluarga kita.

Walhamdulillahi Rabbil Alamin.
Salam ShemangatzZz.
Imam Majelis Ilmu 114.

* * *

Monday, May 14, 2018

DO'A & DZIKIR DALAM SHALAT & SETELAH SHALAT


Shalat di awali dengan Takbiratul Ihram, yaitu mengucap Allahu Akbar sambil mengangkat kedua tangan setinggi bahu atau setinggi telinga. Salah satu makna dari takbir pembuka shalat ini adalah untuk menguatkan kita umat Islam, bahwa dalam kondisi apapun, tatkala masuk waktu shalat, maka kita diperintahkan untuk berdiri tegak, menghadap kiblat dan berkata Allah Maha besar. Semua adalah kecil, harta, jabatan, dunia dan seiisinya adalah kecil, tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Allah SWT. Maka pada saat hati kita sedang kecil karena terpuruk, gagal, dan terjatuh, selalu ingat kepada Allah SWT, jadikan Shalat sebagai penolong, jangan putus asah, segara menghadap dan berserah diri kepada Allah SWT dengan berdiri tegak tunaikan Shalat.

Setelah takbiratul ihram, kita disunnahkan membaca do’a iftitah. Umar r.a. meriwayatkan, “Ketika kami sedang Shalat bersama Rasulullah s.a.w., tiba-tiba salah seorang jama’ah mengucapkan ‘Allah Maha Besar lagi Sempurna kebesaran-Nya, segala puji bagi-Nya dan Maha Suci Allah sepanjang pagi dan sore (do’a iftitah)’. Kemudian Rasulullah s.a.w. bertanya, ‘siapa yang membaca doa tadi?’ Kemudian orang yang membacanya menjawab, ‘Saya, ya Rasulullah.’ Selanjutnya beliau bersabda, ‘Pintu-pintu langit terbuka karena doa itu.’” Umar r.a kemudian berkata, “Sejak saat itu, saya tidak pernah tidak membaca doa iftitah dalam shalat”.

Setelah kita membaca do’a iftitah, kita menunaikan rukun Shalat yaitu membaca Al-Qur’an Surah Al-Fatihah, yang didalamnya terdapat dzikir dan do’a. Di ayat yang pertama sampai ketiga, kita mengucap basmallah dan hamdallah, menyebut nama Allah SWT, memuji Allah SWT, menyebut asma-Nya. Di ayat yang keempat dan kelima kita mengagungkan kebesaran dan kekuasaannya, seraya berserah diri kepada Allah SWT dengan berikrar bahwa hanya kepada Allah SWT kita menyembah dan hanya kepada Allah SWT kita mohon pertolongan. Kita tidak menyembah uang, jabatan, kekuasaan, manusia, dan materi duniawi, dan kita juga tidak akan memohon-mohon kepada selain Allah SWT untuk urusan apapun. Setelahnya di ayat keenam kita berdo’a memohon agar Allah SWT mengantarkan kita menuju jalan keselamatan di dunia dan di akhirath, dan kita berdo’a memohon agar kita dijaga, dijauhkan dari jalan orang-orang yang dimurkai Allah SWT dan dijauhkan dari jalan orang-orang yang sesat.

Di saat ruku, kita bertasbih dan memuji Allah SWT dan saat i’tidal kita memohon agar Allah SWT mendengar tasbih dan pujian kita kepada-Nya. Di saat sujud kita kembali bertasbih dan memuji Allah SWT dan pada saat duduk di antara dua sujud kita kembali berdo’a dengan meminta 8 hal kepada Allah SWT. Sebelum kita mengakhiri Shalat kita, kita sampaikan kembali penghormatan serta pujian dan do’a. Di akhir Shalat kita, terucap salam yang disertai dengan gerakan menghadap ke kanan dan ke kiri. Shalat tidak lepas dari do’a dan dzikir.

Setelah selesai Shalat, kita masih dapat berdo’a dan berdzikir. Berdasarkan hadis Abdullah bin Amru radhiallahu ‘anhu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَلَّتَانِ لَا يُحْصِيهِمَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ أَلَا وَهُمَا يَسِيرٌ وَمَنْ يَعْمَلُ بِهِمَا قَلِيلٌ يُسَبِّحُ اللَّهَ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ عَشْرًا وَيَحْمَدُهُ عَشْرًا وَيُكَبِّرُهُ عَشْرًا

Ada dua perkara, setiap muslim yang konsisten melakukannya akan masuk ke dalam surga. Keduanya sangatlah mudah, namun sangat jarang yang mampu konsisten mengamalkannya. (Perkara yang pertama) adalah bertasbih, bertahmid, dan bertakbir masing-masing sebanyak sepuluh kali sesudah menunaikan shalat fardhu.” (Sahih; H.R. Tirmidzi, no. 3410; Shahihut Tirmidzi, no. 2714).

* * *

Monday, March 5, 2018

PENERIMA MANFAAT BULAN JANUARI-FEBRUARI 2018

Bismillah ar-Rahman ar-Rahim.

Assalammu’alaikum Warahmatullahi Wabarakahtuh.

Alhamdulillahi Rabbil Alamin, Shalawat dan Salam kepada Rasulullah SAW beserta Para Pengikutnya, Umat Islam.

Pada bulan Rabiul Akhir-Jumadil Awal 1439H / Januari-Februari 2018, penyaluran dana Baitul Mal MI-114 telah diberikan kepada 3 orang Mustahiq terdiri dari 2 orang Cleaning Service dan 1 orang Petugas Kebersihan di daerah Falatehan Jakarta Selatan dan Grogol Jakarta Barat.

Terima kasih kepada Para Sahabat Majelis dan Jama’ah Masjid Al-Mu’minun, khususnya Para Donatur yang telah memberikan dukungan untuk Pengembangan Majelis. InsyaAllah setiap amal kita bernilai ibadah dan membawa barakah yang besar dan banyak untuk kita dan keluarga kita.

Walhamdulillahi Rabbil Alamin.

Salam ShemangatzZz.

Imam Majelis Ilmu 114.

* * *


Monday, February 26, 2018

MASBUK

Beberapa perkara penting terkait dengan Masbuk:
  1. Apabila seorang Makmum datangnya menjelang iqamah Shalat Fardhu, sehingga dia harus memilih antara Shalat Tahyatul Masjid atau Shalat Qabliyah, maka hendaknya mengutamakan Shalat Qabliyah.
  2. Seorang Makmum dikatakan sebagai Masbuk ketika tidak dapat ruku bersama dengan Imam.
  3. Seorang Makmum yang masbuk hendaknya melakukan 2 Takbir. Pertama, Takbiratul Ihram sebagai pembuka Shalat. Kedua, Takbir untuk kemudian mengikuti gerakan Imam (misalnya: jika saat masbuk, Imam sudah dalam posisi sujud, maka makmum langsung ikut sujud tanpa harus mengerjakan ruku dan i'tidal terlebih dahulul).
  4. Seorang Makmum yang masbuk hendaknya mengikuti Imam dan tidak boleh menyelisihi Imam (jika saat Imam sudah sujud, Makmum masbuk baru i'tidal, maka kondisi tersebut adalah salah. Semestinya kalau Imam sujud, maka Makmum ikut sujud, meskipun bacaan makmum saat i'tidal belum selesai).
  5. Masbuk hendaknya melanjutkan Shalat saat Imam selesai salam. Jangan langsung berdiri sementara Imam belum selesai salam.
  6. Masbuk melengkapi raka'at sesuai dengan ketentuan jumlah raka'at Shalat sempurna. Jika tertinggal 1 raka'at, maka setelah Imam salam, makmum lanjutkan shalat 1 raka'at.
  7. Seorang Makmum masbuk laki-laki hendaknya berdiri disamping  Imam dengan posisi satu langkah agak  di belakang Imam, hal ini jika shalatnya hanya berdua. Jika Makmum masbuk laki-laki yang baru datang adalah orang yang ketiga, maka hendaknya menepuk pundak makmum (orang kedua), dan pada saat akan sujud, posisi dua orang makmum tersebut sudah harus mundur/disesuaikan agar berada di shaf kedua, di belakang Imam.
  8. Jika Imam melakukan sujud sahwi maka makmum masbuk juga ikut sujud sahwi, meskipun makmum yang masbuk tidak lupa.
  9. Lebih baik masbuk daripada shalat sendiri. Jika shalat di suatu Masjid, hendaknya bergabung dengan shalat jama'ah yang sudah ada, jangan bikin shalat jama'ah yang lain.
  10. Saat masbuk, boleh mengambil orang yang sedang shalat sunnah sebagai imam. Shalat berjama'ah dalam kondisi masbuq boleh berbeda niat. Misalnya yang ditepuk pundaknya (orang yang akan dijadikan imam) adalah orang yang sedang shalat sunnah, sementara orang yang menepuk pundak (orang masbuk yang akan menjadi makmum) adalah orang yang akan shalat fardhu.
* * *

Monday, February 5, 2018

PENERIMA MANFAAT BULAN NOVEMBER-DESEMBER 2017

Bismillah ar-Rahman ar-Rahim.

Assalammu’alaikum Warahmatullahi Wabarakahtuh.

Alhamdulillahi Rabbil Alamin, Shalawat dan Salam kepada Rasulullah SAW beserta Para Pengikutnya, Umat Islam.

Pada bulan Safar-Rabiul Awal 1439H / November-Desember 2017, penyaluran dana Baitul Mal MI-114 telah diberikan kepada 4 orang Mustahiq terdiri dari 1 orang Pemulung Sampah dan 2 orang Petugas Kebersihan dan 1 orang Lansia di daerah Tomang Jakarta Barat, Kebayoran Baru Jakarta Selatan dan Jatinegara Jakarta Timur.

Terima kasih kepada Para Sahabat Majelis dan Jama’ah Masjid Al-Mu’minun, khususnya Para Donatur yang telah memberikan dukungan untuk Pengembangan Majelis. InsyaAllah setiap amal kita bernilai ibadah dan membawa barakah yang besar dan banyak untuk kita dan keluarga kita.

Walhamdulillahi Rabbil Alamin.

Salam ShemangatzZz.

Imam Majelis Ilmu 114.

* * *


Tuesday, January 30, 2018

SIFAT-SIFAT ORANG BERIMAN DAN BERTAQWA

Siapakan orang-orang yang beriman dan bertaqwa ? Allah SWT berfirman: “(yaitu) orang-orang yang mendirikan sembahyang dan menunaikan zakat dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat”. [An-Naml (27) ayat 3]. Dalam ayat yang lain dijelaskan “(yaitu) yang bersabar dan bertawakkal kepada Tuhannya”. [Al-Ankabut (29) ayat 59].

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya”. [Al-A’raf (7) ayat 201]. Orang yang senantiasa ingat kepada Allah SWT akan selalu dekat dengan Masjid. Allah SWT berfimran: “Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk”. [At Taubah (9) ayat 18].

Tidak hanya itu, dalam Al-Qur’an kita banyak memperoleh penjelasan:

Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. [Al-Furqan (25) ayat 63].

Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka. [Al-Furqan (25) ayat 64].

Dan orang-orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, jauhkan azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal.". [Al-Furqan (25) ayat 65].

Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. [Al-Furqan (25) ayat 67].

Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), [Al-Furqan (25) ayat 68].

Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya. [Al-Furqan (25) ayat 72].

Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat- ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang- orang yang tuli dan buta. [Al-Furqan (25) ayat 73].

Dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. [Al-Furqan (25) ayat 74].

Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung. [Al-Mujadilah (58) ayat 22].

* * *