Al Mujaadilah ayat 11 : Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: ”Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan :”Berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui yang kamu kerjakan..

Santunan Anak Yatim Dhuafa

Jumadil Akhir 1437H / April 2016, Pondok Labu, Cilandak, Jakarta Selatan.

Sahabat Majelis Ilmu

Foto bersama bulan Ramadhan 2013

Sahabat Majelis Ilmu 114 di Taman Mini Indonesia Indah

Silaturahim Bulanan Ke-2 Majelis Ilmu 114 pada Bulan Februari 2014

Monday, December 8, 2014

SILATURAHIM MI-114 BERSAMA ANAK YATIM & DHUAFA NOVEMBER 2014

Bismillah Ar-Rahman Ar-Rahim,

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan Semesta Alam. Salawat dan Salam kita sampaikan kepada Rasulullah SAW dan para pengikut beliau, Umat Islam. Semoga kita semua dalam kondisi sehat wal afiat serta dalam lindungan Allah SWT.

Majelis Ilmu 114 mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan donasi dan kontribusi untuk Pengembangan Majelis sehingga kegiatan Silaturahim MI-114 bersama 20 (dua puluh) Anak Yatim dan/atau dhuafa di daerah Pondok Labu, Jakarta Selatan dapat terlaksana pada hari Sabtu, tarikh 29 Muharram 1436H / tanggal 22 November 2014. InsyAllah setiap niat dan amal kita bernilai ibadah dan menjadi barakah untuk kita dan keluarga kita.

Demikian kami sampaikan, atas setiap dukungan yang telah diberikan kami ucapkan terima kasih.

Wassalammualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Majelis Ilmu 114,

Salam ShemangatzZz,

Imam Majelis

* * *


Wednesday, December 3, 2014

IKHLAS, MEMURNIKAN AMALAN





"Dan Aku (Allah SWT) tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku (Allah SWT)". (QS. Adz Dzariyat (51) Ayat 56).

Rasulullah shallahu`alaihi wa sallam bersabda:

"Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang akan dibalas berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena ingin mendapatkan keridhaan Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya akan mendapatkan keridhaan Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena menginginkan kehidupan yang layak di dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya akan bernilai sebagaimana yang dia niatkan". (Hadits Riwayat Imam Bukhari dan Muslim, Hadits nomor 1 dalam Kitab Arbain, Imam Nawawi).

Penjelasan hadits tersebut menerangkan bahwa sebab dituturkannya hadits ini adalah terkait dengan peristiwa hijrah dari Makkah ke Madinah. Saat itu, Rasulullah SAW mendapatkan laporan bahwa ada seorang laki-laki Makkah yang ikut berhijrah hanya agar bisa menikahi seorang wanita, dan bukan karena untuk memenuhi perintah Allah dan Rasul-Nya. Dari peristiwa tersebut, Rasulullah kemudian bersabda yang pada intinya menegaskan bahwa nilai suatu amalan itu ditentukan berdasarkan niatnya.

Ikhlas

Allah Ta'ala berfirman: Padahal mereka (orang-orang yang telah diberi Kitab dari Allah) tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya (ikhlas) dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.". (Qur'an Surah al-Bayyinah ayat 5).

Orang-orang di zaman Jahiliyah dulu jika mengharapkan keridhaan Tuhan, mereka sembelih unta sebagai kurban, lalu darah unta itu disapukan pada dinding Baitullah atau Ka'bah. Kaum Muslimin hendak meniru perbuatan mereka itu, lalu turunlah ayat 37, Qur'an Surah Al-Hajj, dimana Allah Ta'ala berfirman:

"Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.".

Sesungguhnya ikhlas itu berarti melakukan segala sesuatu dengan niat untuk mendapatkan Ridha Allah SWT. Dilakukan dengan cara-cara yang sesuai dengan tuntunan Allah SWT, dan memurnikan ketaatan dari hal-hal yang dapat merusaknya.

Beberapa hal yang dapat merusak keikhlasan kita adalah rasa sombong, riya, ingin dipuji orang, dan mengharapkan materi duniawi. Orang yang melakukan kebaikan, hanya akan mendapatkan nama baik dimata manusia, jika dalam melakukan kebaikan itu tidak diniatkan lillahi ta'ala.

Sungguh perbedaan antara amalan seorang Muslim dengan mereka yang non Muslim adalah terletak pada niatnya. Amalan baik seorang Muslim selalu ditujukan atas nama Allah SWT, dan amalan baik dari seorang yang non-muslim bisa ditujukan atas banyak nama, bisa jadi atas nama kebaikan, atas nama kemanusiaan, ataupun atas nama kecintaan terhadap makhluk dan duniawi.

Amalan yang diniatkan karena Allah SWT akan bernilai ibadah, sementara amalan yang diniatkan karena selain Allah SWT hanya akan mendapatkan seperti apa yang diniatkan itu, tanpa adanya Ridha dari Allah SWT.

Kisah

Dalam salah satu kitab yang disusun oleh Imam Al-Ghazali, diceritakan tentang dua orang bersaudara yang tinggal serumah dengan kondisi keimanan yang berbeda. Sang kakak yang terkenal sebagai seorang ahli ibadah, tinggal di lantai atas, dan sang adik yang terkenal sebagai seorang ahli maksiat, tinggal di lantai dasar rumah mereka.

Suatu ketika, muncul dalam benak sang adik yang terkenal ahli maksiat itu untuk bertaubat. Dia merasa tidak bahagia dengan hidupnya yang penuh dengan dosa. Niatnya sudah mantab untuk kembali ke jalan Tuhan yang lurus, maka dia pun memutuskan untuk naik ke lantai atas, bertemu dengan kakaknya yang tekenal ahli ibadah agar dapat menuntunnya dalam bertaubat.

Pada saat yang sama, muncul dalam benak sang kakak yang ahli ibadah itu meninggalkan ibadahnya. Dia merasa penasaran dengan kehidupan maksiat dan ingin mencobanya. Imannya goyah pada saat itu, dan dengan penuh keyakinan dia berniat keluar dari rumahnya untuk bersenang-senang.

Sang adik pun pada akhirnya dengan niat bertaubat melangkahkan kakinya, naik tangga menuju ke tempat kakaknya di lantai atas. Secara bersamaan sang kakak dengan niat maksiat pun melangkahkan kakinya, turun tangga hendak keluar dari rumah.

Tanpa diduga, sang kakak tersandung dan kemudian jatuh terguling dari tangga dan menabrak adiknya yang sedang melangkah naik. Keduanya jatuh dan membentur tembok. Seketika keduanya meninggal dunia.

Pada hari setelah itu, para ulama yang taat yang hidup bersama mereka, diberi hikmah tentang kejadian tersebut. Maka diberitakanlah perihal kondisi kedua orang bersaudara itu di yaumul akhir nanti.

Sang kakak yang ahli ibadah, yang boleh jadi jaraknya dengan surga sudah sangat dekat, karena meninggalnya dengan niat dan langkah yang buruk, maka ia dikabarkan akan dibangkitkan pada yaumul akhir bergabung dengan golongan orang-orang yang merugi.

Sementara sang adik yang banyak hilaf, yang boleh jadi jaraknya dengan neraka sudah sangat dekat, karena meninggalnya dengan niat taubat dan telah melangkah menuju kebaikan, maka ia dikabarkan akan dibangkitkan pada yaumul akhir bergabung dengan golongan orang-orang yang beruntung.

Demikian kisah hikmah yang disampaikan dalam salah satu kitab yang disusun oleh Imam Al-Ghazali. Sungguh keikhlasan setiap insan dalam beribadah akan diuji. Amal shaleh dengan niat yang lurus untuk mendapatkan Ridha Allah SWT, perlu terus dijaga selama hidup.

Bagi mereka yang ahli ibadah, janganlah sombong dan berpuas diri dengan ibadahnya. Selalu ada ujian dan cobaan yang akan merintangi hidup. Sesungguhnya kesuksesan ibadah ditentukan pada akhir hayat. Oleh karenanya, teruslah meningkatkan kualitas ibadah selama hidup.

Bagi mereka yang ahli maksiat, janganlah pesimis, menyerah dan menutup diri dari hidayah. Selalu ada jalan dan kesempatan untuk bertaubat. Bersegeralah untuk meluruskan niat dan memperbaiki langkah. Ingatlah selalu, bahwa Allah SWT adalah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

Mengambil Hikmah dari Surah An-Nas

Allah SWT memiliki 3 sifat utama dalam pokok ketuhanan yaitu Rubuiyah (Rabbin Nas), Mulkiyah (Malikin Nas) dan Uluhiyah (Ilahin Nas).

Rububiyah menunjukan bahwa Allah SWT adalah Tuhan yang berkuasa atas segala sesuatu, sehingga setiap hukum yang telah ditetapkannya wajib ditaati oleh seluruh makhluk. Orang yang ikhlas tidak akan meninggalkan hukum Allah karena dunia dan tidak akan ragu untuk meninggalkan segala hukum yang bertentangan dengan hukum Allah SWT.

Mulkiyah menunjukan bahwa semua yang ada di alam semesta adalah milik-Nya, maka semua yang ada pada manusia adalah titipan, baik itu diri maupun harta kita. Pada hakekatnya semua titipan itu harus kita jaga dan kita manfaatkan sesuai dengan tuntunan Allah SWT. Orang yang ikhlas tidak akan galau berkepanjangan karena kehilangan harta, jabatan dan segala sesuatu materi duniawi, karena yakin semua itu adalah milik Allah SWT dan pada akhirnya akan kembali kepada Allah SWT.

Uluhiyah menunjukan bahwa hanya Allah SWT satu-satunya Tuhan yang berhak disembah oleh Manusia dan seluruh makhluk. Manusia yang memohon, berdo'a dan menyembah kepada selain Allah SWT adalah musyrik.

Orang yang ikhlas tidak akan bermohon-mohon kepada manusia ataupun makhluk yang lain untuk memenuhi kebutuhannya. Hanya kepada Allah SWT kita memohon, karena hanya Allah SWT yang dapat memenuhi semua kebutuhan kita.

Mengambil Hikmah dari Surah Al-Ikhlas

Berbeda dengan surah An-Nas dan Al-Falaq, didalam surah Al-Ikhlas tidak tertulis dan disebut kata Ikhlas dalam ayat-ayatnya sebagaimana Qul audzu birabbinnas dan Qul audzu birabbil falaq. Orang yang ikhlas tidak akan menyebut dan mengaku-ngaku ikhlas ataupun pamer dengan ibadahnya. Ikhlas adalah melakukan segala sesuatu karena Allah SWT, untuk Allah SWT, dan dengan petunjuk Allah SWT, bukan karena kesenangan pribadi, bukan karena kepuasan hati, bukan karena jabatan, harta, karena manusia atau karena lain tujuan duniawi.

InsyaAllah kita semua termasuk orang-orang yang Ikhlas dan diridhai Allah SWT.

* * *