Al Mujaadilah ayat 11 : Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: ”Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan :”Berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui yang kamu kerjakan..

Santunan Anak Yatim Dhuafa

Jumadil Akhir 1437H / April 2016, Pondok Labu, Cilandak, Jakarta Selatan.

Sahabat Majelis Ilmu

Foto bersama bulan Ramadhan 2013

Sahabat Majelis Ilmu 114 di Taman Mini Indonesia Indah

Silaturahim Bulanan Ke-2 Majelis Ilmu 114 pada Bulan Februari 2014

Thursday, March 27, 2014

JANGAN LALAI KARENA URUSAN DUNIA


Aqidah akan tercermin dari pandangan hidup manusia dan bagaimana cara manusia itu hidup. Dalam tuntunan Islam, orang-orang yang memiliki aqidah yang lurus memiliki salah satu sifat yang disebut "zuhud". Istilah zuhud punya kaitan erat dengan istilah "hubbud dun'ya".

Apa itu zuhud dan apa itu hubbud dun'ya ? Jawaban singkatnya: Hubbud dun'ya adalah cinta manusia kepada dunia lebih daripada cintanya kepada Allah swt. Sementara zuhud adalah sifat yang sebaliknya.

Dalam Al-Qur'an perumpamaan kehidupan duniawi adalah sebagai berikut: Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanaman tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berpikir. (QS. Yunus (10) Ayat 24).

Dalam ayat tersebut manusia diajak dan diajarkan untuk berpikir. Tujuan dari ajakan dan ajaran tersebut adalah agar manusia memberikan perhatian yang utama kepada tuntunan Islam yang tertuang dalam Al-Qur'an. Tuntunan-tuntunan itulah yang disebut "ilmu". Beberapa ulama bahkan menjelaskan bahwa hanya disebut ilmu apabila pengetahuan yang dimiliki manusia itu bisa mengantarkannya kepada sifat zuhud.
Bagaimana jika kita menolak ajakan dan ajaran tersebut ? Dalam tuntunan Islam,  merujuk pada kisah kaum Nabi-Nabi terdahulu, dijelaskan bahwa orang-orang yang sudah diajak dan diajarkan tetapi tidak mengikuti, disebut sebagai orang-orang yang sombong. Dalam Al-Qur'an, Allah swt berfirman:

Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat (Ku), mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus menempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai daripadanya. (QS. Al – A'raaf (7) Ayat 146).

Sebagai catatan, dalam Tafsir Al-Azhar oleh Buya Hamka dijelaskan bahwa turunnya ayat ini adalah sebagai pelajaran bagi kaum Nabi Muhammad saw atas sifat kaumnya Nabi Musa as, khususnya terkait dengan kesombongan Fir'aun. Dari ayat tersebut, sudah jelas dapat kita pahami bahwa orang-orang yang sombong adalah orang-orang yang enggan untuk memperhatikan ayat-ayat Qur'an. Selanjutnya kita diperingatkan bahwa keengganan tersebut menjadi salah satu sebab jin dan manusia akan ditransfer ke neraka setelah selesai berlaga di dunia. Mari kita perhatikan ayat berikut:

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS. Al – A'raaf (7) Ayat 179).

Dalam tafsir Al-Azhar, Buya Hamka menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan sombong adalah sifat takabur kepada ilmu Allah swt. Merasa ilmu-ilmu yang lain lebih penting dan lebih benar dibanding ilmu-ilmu Islam. Namun ada hal-hal tertentu yang tidak dikategorikan sebagai sifat sombong, yaitu meninggikan ilmu Islam. Ia menceritakan bahwa Imam Malik pernah diminta menghadap kepada Khalifah Muawiyah, untuk menerangkan tuntunan Islam. Saat datang utusan Khalifah menyampaikan maksud tersebut, beliau berkata "Ilmu itu didatangi bukan mendatangi". Maksud dari kalimat itu adalah jika anda ingin mendapatkan ilmu maka andalah yang selayaknya mencari dan menemui, bukan anda menunggu dan memerintahkan agar ilmu itu datang kepada anda. Pada akhirnya Khalifah Muawiyah datang ke rumah Imam Malik yang kalah megah dibanding Istana Khalifah untuk belajar disana.

Insyaallah penjelasan dari ayat-ayat tersebut, bisa menjadi "ilmu" untuk kita amalkan dan kita sampaikan kepada orang-orang yang kita sayangi agar tidak lalai dan semakin aktif serta istiqamah dalam mempelajari tuntunan Islam.

* * *

SAATNYA JADIKAN SHALAT KITA “BERKELAS”.


"Sesungguhnya Allah Ta'ala melihat pada orang yang Salat, selama orang itu tidak berpaling kepada yang lain" (Dirawikan Abu Dawud, An-Nasa'i dari Abi Dzar). Jika kita bisa menjaga sikap kita saat bertemu dengan orang yang kita cintai, maka sungguh menjaga hati dan lahiriyah saat Shalat adalah suatu keharusan bagi orang-orang yang sungguh-sungguh mencintai Tuhannya.

Sesungguhnya salat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman (QS. An-nisa (4) ayat 103). Iman Islam tidak hanya sekedar urusan administrasi yang ditunjukan dari status agama yang tertulis dalam KTP, tetapi salah satu wujud rilnya ditunjukan melalui Shalat. Maka jelaslah bahwa orang yang tidak menunaikan Shalat seharusnya berfikir ulang untuk mengklaim dirinya sebagai orang yang beriman.

Rasulullah saw bersabda, Sesungguhnya shalat-shalat itu menghapuskan dosa yang terjadi diantaranya, selama itu bukan dosa besar (Dirawikan Muslim dari Abu Hurairah ra). Barangsiapa menjumpai Allah, sedang dia menyia-nyiakan shalat, maka tidak diperdulikan oleh Allah sesuatu daripada kebajikan-kebajikannya (Dirawikan Ath-Thabrani dari Anas). Inilah salah satu wujud keadilan dalam Islam, dalam setiap tuntunannya diterangkan dengan jelas manfaat, hak dan sanksi bagi setiap orang yang menunaikan dan melalaikan kewajibannya.

Pembicaraan diatas bisa kita analogikan sebagai pembicaraan awal dalam urusan shalat. Layaknya orang yang bersekolah, tentu idealnya pada satu waktu akan naik kelas. Begitu pula shalat, bagi kita yang rutin telah mengerjakan shalat, idealnya mulai berupaya untuk meningkatkan "kelas" shalat kita ketingkatan yang lebih tinggi yaitu shalat yang khusyu'.

Allah swt berfirman "Kerjakanlah shalat untuk mengingat Aku" (QS. Tha-haa (20) ayat 14). Apakah pada saat kita shalat, kita masih lebih sering mengingat yang selain Allah swt ?. "Janganlah kamu salat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sampai kamu mengerti apa yang kamu ucapkan" (QS. An-nisaa (4) ayat 43). Apakah saat kita shalat, kita mengerti apa yang kita ucapkan ?. Inilah pertanyaan-pertanyaan kunci yang dapat menjastifikasi apakah shalat kita khusyu atau tidak.

Shalat yang khusyu' tidak berarti shalat sampai hilang kesadaran, bukan pula berarti shalat menggunakan bahasa daerah (selain bahasa Al-Qur'an) agar kita mengerti apa yang kita ucapkan, dan bukan pula shalat dengan gaya bebas senyaman yang kita mau. Kunci khusyu' adalah shalat untuk mengingat Allah, dan kita mengerti apa yang kita ucapkan pada setiap ucapan dalam gerakan shalat, sesuai dengan tuntunan Islam.

Berapa banyak orang yang dalam shalatnya masih lebih banyak mengingat acara televisi, tugas-tugas sekolah atau kuliah, pekerjaan-pekerjaan kantor, makanan dan minuman, janji dengan teman, dan lain sebagainya. Berapa banyak juga orang yang shalat, ia tidak minum khamar atau beer, tetapi ia tidak mengerti apa yang ia ucapkan. Jika kita masih termasuk dalam kelompok orang-orang yang macam itu, maka marilah mulai hari ini kita benahi shalat kita bersama-sama.

Hati seumpama gelas, untuk mengisi shalat kita dengan kekhusyu'an, kita terlebih dahulu perlu memastikan hati kita kosong dari hal-hal lain, selain shalat. Isi hati kita dengan niat yang lurus untuk shalat, lillahi ta'ala, bukan rutinitas ta'ala, dan setelah itu kita tutup agar tidak dimasuki oleh sesuatu yang dapat merusak isinya. Hati bisa terpengaruh oleh penglihatan, pendengaran, maupun penciuman. Amankan tiga indera tersebut saat shalat.

Pertama, pastikan syarat wajib dan syarat sah shalat sudah kita tunaikan. Kedua, pastikan tempat kita shalat bebas dari gambar atau tampak suatu benda yang dapat mengalihkan perhatian kita. Ketiga, pastikan pula bahwa benda-benda seperti telepon seluler atau yang serupa sudah kita atur silent atau nonaktif untuk mengamankan pendengaran kita selama shalat. Keempat, pastikan tidak ada aroma entah dari pakaian atau dari badan kita, yang dapat mengganggu konsentrasi saat shalat. Jika semuanya sudah kita amankan, maka mari kita shalat sesuai dengan rukun yang telah ditetapkan dalam syariat.

Dalam buku terjemahan Ihya Ulumiddin karya Imam Ghazali oleh Prof. Tengku H. Ismail Yakub, disampaikan bahwa Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya shalat itu menetapkan hati, menundukan diri, merapati bathin, menyesali diri (Dirawikan At-Tirmidzi dari Al-Fadl bin Abbas). Diceritakan pula bahwa Rasulullah saw melihat seorang bermain-main dengan janggutnya dalam shalat, maka beliau bersabda: "jikalau khusyu' hati orang ini, niscaya khusyu'lah anggota-anggota badannya" (Dirawikan At-Tirmidzi dari Abu Hurairah). Sesungguhnya diwajibkan shalat adalah karena menegakkan dzikir (mengingat) Allah Ta'ala (Dirawikan At-Tirmidzi dari Aisyah).

Fokus pada bacaan dalam setiap gerakan shalat. Jika saat ini kita sudah menghafal semua bacaan dalam shalat, maka kedepan kita perlu upayakan untuk mengetahui arti dari setiap bacaan tersebut. Jika saat ini kita sudah menghafal arti dari setiap bacaan dalam shalat, maka kedepan kita perlu upayakan untuk dapat menghayati arti dari setiap bacaan tersebut. Penghayatan itulah yang akan mengantarkan kita pada shalat yang lebih khusyu', InsyaAllah.

Istiqamah untuk khusyu' dalam shalat akan manjadikan kita sebagai ahli shalat khusyu'. Adalah Amir bin Abdullah termasuk orang yang khusyu' didalam shalat. Dan apabila ia mengerjakan shalat, kadang-kadang anaknya memukul rebana dan berbincang-bincang sesuka hatinya di rumah. Namun ia tidak terpengaruh oleh segala keributan itu. Rasulullah saw bersabda, dirikanlah shalat seperti shalat orang yang mengucapkan selamat tinggal (Dirawikan Abu Bakar bin Malik dari Ma'adz bin Jabal). Buatkanlah sangkaan didalam hati bahwa shalat yang anda lakukan saat ini adalah shalat terakhir, karena belum tentu umur anda akan sampai pada waktu shalat berikutnya. Maka, masuk ke akhirath, keluar dari dunia.

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya, dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya (QS. Al-Mu'minuun (23) ayat 1, 2, 9-11). Inilah hasil dari shalat yang "berkelas".

* * *

HADITS TENTANG ISLAM, IMAN DAN IHSAN


عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ، لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ: يَا مُحَمَّد أَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِسْلاَمِ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : اْلإِسِلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكاَةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ   وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً قَالَ : صَدَقْتَ، فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِيْمَانِ قَالَ : أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. قَالَ صَدَقْتَ، قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ . قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ: مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَاتِهَا، قَالَ أَنْ تَلِدَ اْلأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي الْبُنْيَانِ، ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا، ثُمَّ قَالَ : يَا عُمَرَ أَتَدْرِي مَنِ السَّائِلِ ؟ قُلْتُ : اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمَ . قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتـَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ .
[رواه مسلم]

Dari Umar radhiallahuanhu juga dia berkata : Ketika kami duduk-duduk disisi Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam suatu hari tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Hingga kemudian dia duduk dihadapan Nabi lalu menempelkan kedua lututnya kepada kepada lututnya (Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam) seraya berkata:

"Ya Muhammad, beritahukan aku tentang Islam ?", maka bersabdalah Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam : " Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Ilah (Tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu ", kemudian dia berkata: " anda benar ". Kami semua heran, dia yang bertanya dia pula yang  membenarkan.

Kemudian dia bertanya lagi: " Beritahukan aku tentang Iman ". Lalu beliau bersabda: " Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk ", kemudian dia berkata: " anda benar".
Kemudian dia berkata lagi: " Beritahukan aku tentang ihsan ". Lalu beliau bersabda: " Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau".

Kemudian dia berkata: " Beritahukan aku tentang hari kiamat (kapan kejadiannya)". Beliau bersabda: " Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya ". Dia berkata:  " Beritahukan aku tentang tanda-tandanya ", beliau bersabda:  " Jika seorang hamba melahirkan tuannya dan jika engkau melihat seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin dan penggembala domba, (kemudian)  berlomba-lomba meninggikan bangunannya ", kemudian orang itu berlalu dan aku berdiam sebentar.

Kemudian beliau (Rasulullah) bertanya: " Tahukah engkau siapa yang bertanya ?". aku berkata: " Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui ". Beliau bersabda: " Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian (bermaksud) mengajarkan agama kalian ".

(HR. Muslim nomor 8. Hadist Kedua dari Kitab Arbain Nawawi)

* * *

Monday, March 10, 2014

PENYALURAN INFAQ MI-114 KE-8, KE-9, DAN KE-10

Bismillahi ar-Rahman ar-Rahim,

Assalammu'alaikum Warahmatullahi Wabarakahtuh,


Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. Al Baqarah ayat 274).

Sahabat Majelis Ilmu 114, Alhamdulillah dalam kegiatan Silaturahim Bulanan Majelis pada hari Sabtu, Rabiul Akhir 1435H/ 15 Februari 2014, Infaq Majelis Ilmu 114 ke-8, ke-9, dan ke-10, telah disalurkan di sekitar Terminal Kampung Rambutan, Jakarta Timur, kepada tiga orang pemulung.

Penyaluran Infaq MI-114 ke-9 copy

Para Sahabat MI-114 yang mau ikut share pendanaan untuk pengembangan Majelis dapat memberikan konfirmasi melalui email: majelis.ilmu114@yahoo.com dan memberikan konfirmasi kepada Kepala Baitul Mal MI-114.

Penyaluran Infaq MI-114 ke-10 copy

InsyaAllah setiap niat dan upaya baik yang kita lakukan diridhai Allah SWT sebagai ibadah dan amal shaleh yang membawa baraqah fi dun'ya wa fil akhirath.

Walhamdulillahi Rabbil Alamin.

Salam ShemangatzZz,
MI-114

Monday, March 3, 2014

SILATURAHIM BULANAN MAJELIS ILMU 114 KE-2 TAHUN 1435H

Bismillahi ar-Rahman ar-Rahim

2 Logo MI-114

Assalammu’alaikum Warahmatullahi Wabarakahtuh,

 

Alhamdulillah,  Silaturahim Bulanan Majelis Ilmu 114 ke-2 Tahun 1435H telah dilaksanakan pada hari Sabtu, 15 Rabiul Akhir 1435H / 15 Februari 2014, di Masjid Pangeran Diponegoro, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur, dari ba’da Dzuhur sampai dengan qabla Maghrib.


Hasil dari Silaturahim tersebut diantaranya adalah telah dibahas Tafsir Ibnu Katsir Qur’an Surah Al-A’la, telah dibahas konsep jadwal dan rancangan kebutuhan anggaran minimal untuk pelaksanaan kegiatan silaturahim bersama anak yatim, dan telah disampaikan infaq dari Baitul Mal Majelis kepada 3 (tiga) orang mustahiq di lingkungan sekitar daerah Terminal Kampung Rambutan, Jakarta Timur.


Terima kasih kepada Bapak Amir Machmudin yang telah memberikan Tausiyah dan memfasilitasi makan siang bersama Majelis, dan terima kasih kepada Para Sahabat Majelis, khususnya yang telah memberikan dukungan sehingga Silaturahim Bulanan Majelis dapat terlaksana. InsyaAllah upaya baik yang telah kita lakukan bernilai ibadah dan bermanfaat.


Walhamdulillahi Rabbil Alamin.

Salam ShemangatzZz,

Imam Majelis Ilmu 114


* * *


DSC_0155