Al Mujaadilah ayat 11 : Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: ”Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan :”Berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui yang kamu kerjakan..

Santunan Anak Yatim Dhuafa

Jumadil Akhir 1437H / April 2016, Pondok Labu, Cilandak, Jakarta Selatan.

Sahabat Majelis Ilmu

Foto bersama bulan Ramadhan 2013

Sahabat Majelis Ilmu 114 di Taman Mini Indonesia Indah

Silaturahim Bulanan Ke-2 Majelis Ilmu 114 pada Bulan Februari 2014

Monday, December 8, 2014

SILATURAHIM MI-114 BERSAMA ANAK YATIM & DHUAFA NOVEMBER 2014

Bismillah Ar-Rahman Ar-Rahim,

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan Semesta Alam. Salawat dan Salam kita sampaikan kepada Rasulullah SAW dan para pengikut beliau, Umat Islam. Semoga kita semua dalam kondisi sehat wal afiat serta dalam lindungan Allah SWT.

Majelis Ilmu 114 mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan donasi dan kontribusi untuk Pengembangan Majelis sehingga kegiatan Silaturahim MI-114 bersama 20 (dua puluh) Anak Yatim dan/atau dhuafa di daerah Pondok Labu, Jakarta Selatan dapat terlaksana pada hari Sabtu, tarikh 29 Muharram 1436H / tanggal 22 November 2014. InsyAllah setiap niat dan amal kita bernilai ibadah dan menjadi barakah untuk kita dan keluarga kita.

Demikian kami sampaikan, atas setiap dukungan yang telah diberikan kami ucapkan terima kasih.

Wassalammualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Majelis Ilmu 114,

Salam ShemangatzZz,

Imam Majelis

* * *


Wednesday, December 3, 2014

IKHLAS, MEMURNIKAN AMALAN





"Dan Aku (Allah SWT) tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku (Allah SWT)". (QS. Adz Dzariyat (51) Ayat 56).

Rasulullah shallahu`alaihi wa sallam bersabda:

"Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang akan dibalas berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena ingin mendapatkan keridhaan Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya akan mendapatkan keridhaan Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena menginginkan kehidupan yang layak di dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya akan bernilai sebagaimana yang dia niatkan". (Hadits Riwayat Imam Bukhari dan Muslim, Hadits nomor 1 dalam Kitab Arbain, Imam Nawawi).

Penjelasan hadits tersebut menerangkan bahwa sebab dituturkannya hadits ini adalah terkait dengan peristiwa hijrah dari Makkah ke Madinah. Saat itu, Rasulullah SAW mendapatkan laporan bahwa ada seorang laki-laki Makkah yang ikut berhijrah hanya agar bisa menikahi seorang wanita, dan bukan karena untuk memenuhi perintah Allah dan Rasul-Nya. Dari peristiwa tersebut, Rasulullah kemudian bersabda yang pada intinya menegaskan bahwa nilai suatu amalan itu ditentukan berdasarkan niatnya.

Ikhlas

Allah Ta'ala berfirman: Padahal mereka (orang-orang yang telah diberi Kitab dari Allah) tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya (ikhlas) dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.". (Qur'an Surah al-Bayyinah ayat 5).

Orang-orang di zaman Jahiliyah dulu jika mengharapkan keridhaan Tuhan, mereka sembelih unta sebagai kurban, lalu darah unta itu disapukan pada dinding Baitullah atau Ka'bah. Kaum Muslimin hendak meniru perbuatan mereka itu, lalu turunlah ayat 37, Qur'an Surah Al-Hajj, dimana Allah Ta'ala berfirman:

"Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.".

Sesungguhnya ikhlas itu berarti melakukan segala sesuatu dengan niat untuk mendapatkan Ridha Allah SWT. Dilakukan dengan cara-cara yang sesuai dengan tuntunan Allah SWT, dan memurnikan ketaatan dari hal-hal yang dapat merusaknya.

Beberapa hal yang dapat merusak keikhlasan kita adalah rasa sombong, riya, ingin dipuji orang, dan mengharapkan materi duniawi. Orang yang melakukan kebaikan, hanya akan mendapatkan nama baik dimata manusia, jika dalam melakukan kebaikan itu tidak diniatkan lillahi ta'ala.

Sungguh perbedaan antara amalan seorang Muslim dengan mereka yang non Muslim adalah terletak pada niatnya. Amalan baik seorang Muslim selalu ditujukan atas nama Allah SWT, dan amalan baik dari seorang yang non-muslim bisa ditujukan atas banyak nama, bisa jadi atas nama kebaikan, atas nama kemanusiaan, ataupun atas nama kecintaan terhadap makhluk dan duniawi.

Amalan yang diniatkan karena Allah SWT akan bernilai ibadah, sementara amalan yang diniatkan karena selain Allah SWT hanya akan mendapatkan seperti apa yang diniatkan itu, tanpa adanya Ridha dari Allah SWT.

Kisah

Dalam salah satu kitab yang disusun oleh Imam Al-Ghazali, diceritakan tentang dua orang bersaudara yang tinggal serumah dengan kondisi keimanan yang berbeda. Sang kakak yang terkenal sebagai seorang ahli ibadah, tinggal di lantai atas, dan sang adik yang terkenal sebagai seorang ahli maksiat, tinggal di lantai dasar rumah mereka.

Suatu ketika, muncul dalam benak sang adik yang terkenal ahli maksiat itu untuk bertaubat. Dia merasa tidak bahagia dengan hidupnya yang penuh dengan dosa. Niatnya sudah mantab untuk kembali ke jalan Tuhan yang lurus, maka dia pun memutuskan untuk naik ke lantai atas, bertemu dengan kakaknya yang tekenal ahli ibadah agar dapat menuntunnya dalam bertaubat.

Pada saat yang sama, muncul dalam benak sang kakak yang ahli ibadah itu meninggalkan ibadahnya. Dia merasa penasaran dengan kehidupan maksiat dan ingin mencobanya. Imannya goyah pada saat itu, dan dengan penuh keyakinan dia berniat keluar dari rumahnya untuk bersenang-senang.

Sang adik pun pada akhirnya dengan niat bertaubat melangkahkan kakinya, naik tangga menuju ke tempat kakaknya di lantai atas. Secara bersamaan sang kakak dengan niat maksiat pun melangkahkan kakinya, turun tangga hendak keluar dari rumah.

Tanpa diduga, sang kakak tersandung dan kemudian jatuh terguling dari tangga dan menabrak adiknya yang sedang melangkah naik. Keduanya jatuh dan membentur tembok. Seketika keduanya meninggal dunia.

Pada hari setelah itu, para ulama yang taat yang hidup bersama mereka, diberi hikmah tentang kejadian tersebut. Maka diberitakanlah perihal kondisi kedua orang bersaudara itu di yaumul akhir nanti.

Sang kakak yang ahli ibadah, yang boleh jadi jaraknya dengan surga sudah sangat dekat, karena meninggalnya dengan niat dan langkah yang buruk, maka ia dikabarkan akan dibangkitkan pada yaumul akhir bergabung dengan golongan orang-orang yang merugi.

Sementara sang adik yang banyak hilaf, yang boleh jadi jaraknya dengan neraka sudah sangat dekat, karena meninggalnya dengan niat taubat dan telah melangkah menuju kebaikan, maka ia dikabarkan akan dibangkitkan pada yaumul akhir bergabung dengan golongan orang-orang yang beruntung.

Demikian kisah hikmah yang disampaikan dalam salah satu kitab yang disusun oleh Imam Al-Ghazali. Sungguh keikhlasan setiap insan dalam beribadah akan diuji. Amal shaleh dengan niat yang lurus untuk mendapatkan Ridha Allah SWT, perlu terus dijaga selama hidup.

Bagi mereka yang ahli ibadah, janganlah sombong dan berpuas diri dengan ibadahnya. Selalu ada ujian dan cobaan yang akan merintangi hidup. Sesungguhnya kesuksesan ibadah ditentukan pada akhir hayat. Oleh karenanya, teruslah meningkatkan kualitas ibadah selama hidup.

Bagi mereka yang ahli maksiat, janganlah pesimis, menyerah dan menutup diri dari hidayah. Selalu ada jalan dan kesempatan untuk bertaubat. Bersegeralah untuk meluruskan niat dan memperbaiki langkah. Ingatlah selalu, bahwa Allah SWT adalah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

Mengambil Hikmah dari Surah An-Nas

Allah SWT memiliki 3 sifat utama dalam pokok ketuhanan yaitu Rubuiyah (Rabbin Nas), Mulkiyah (Malikin Nas) dan Uluhiyah (Ilahin Nas).

Rububiyah menunjukan bahwa Allah SWT adalah Tuhan yang berkuasa atas segala sesuatu, sehingga setiap hukum yang telah ditetapkannya wajib ditaati oleh seluruh makhluk. Orang yang ikhlas tidak akan meninggalkan hukum Allah karena dunia dan tidak akan ragu untuk meninggalkan segala hukum yang bertentangan dengan hukum Allah SWT.

Mulkiyah menunjukan bahwa semua yang ada di alam semesta adalah milik-Nya, maka semua yang ada pada manusia adalah titipan, baik itu diri maupun harta kita. Pada hakekatnya semua titipan itu harus kita jaga dan kita manfaatkan sesuai dengan tuntunan Allah SWT. Orang yang ikhlas tidak akan galau berkepanjangan karena kehilangan harta, jabatan dan segala sesuatu materi duniawi, karena yakin semua itu adalah milik Allah SWT dan pada akhirnya akan kembali kepada Allah SWT.

Uluhiyah menunjukan bahwa hanya Allah SWT satu-satunya Tuhan yang berhak disembah oleh Manusia dan seluruh makhluk. Manusia yang memohon, berdo'a dan menyembah kepada selain Allah SWT adalah musyrik.

Orang yang ikhlas tidak akan bermohon-mohon kepada manusia ataupun makhluk yang lain untuk memenuhi kebutuhannya. Hanya kepada Allah SWT kita memohon, karena hanya Allah SWT yang dapat memenuhi semua kebutuhan kita.

Mengambil Hikmah dari Surah Al-Ikhlas

Berbeda dengan surah An-Nas dan Al-Falaq, didalam surah Al-Ikhlas tidak tertulis dan disebut kata Ikhlas dalam ayat-ayatnya sebagaimana Qul audzu birabbinnas dan Qul audzu birabbil falaq. Orang yang ikhlas tidak akan menyebut dan mengaku-ngaku ikhlas ataupun pamer dengan ibadahnya. Ikhlas adalah melakukan segala sesuatu karena Allah SWT, untuk Allah SWT, dan dengan petunjuk Allah SWT, bukan karena kesenangan pribadi, bukan karena kepuasan hati, bukan karena jabatan, harta, karena manusia atau karena lain tujuan duniawi.

InsyaAllah kita semua termasuk orang-orang yang Ikhlas dan diridhai Allah SWT.

* * *

Thursday, November 6, 2014

SILATURAHIM BULANAN MI-114 KE-10 TAHUN 1436H

Bismillah ar-Rahman ar-Rahim

Assalammua'alaikum Warahmatullahi Wabarakahtuh,

"Katakanlah: "Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)". Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia lah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.".
(Qur'an Surah Saba' ayat 39).

Alhamdulillahi Rabbil Alamin, Shalawat dan Salam kepada Rasulullah SAW beserta Para Pengikutnya, Umat Islam. Kegiatan Silaturahim Bulanan Majelis Ilmu 114 ke-10 Tahun 1436H telah diselenggarakan pada hari Sabtu, tarikh 1 Muharram 1436H / 25 Oktober 2014 di daerah Slipi, Kota Jakarta Barat.




Pada hari Jum'at, 22 Dzulhijjah 1435H / 17 Oktober 2014, Majelis Ilmu 114 telah menyalurkan Infaq di Kota Makassar, Sulawesi Selatan kepada 3 orang mustahiq yang terdiri dari 1 orang laki-laki dengan pekerjaan pemulung sampah, 1 orang laki-laki dhuafa lanjut usia, dan 1 orang perempuan dhuafa yang cacat fisik. Selain itu, pada hari Sabtu, 1 Muharram 1436H / 25 Oktober 2014, Majelis Ilmu 114 telah menyalurkan infaq di sekitar daerah Slipi dan daerah Jakarta Selatan, kepada 3 orang mustahiq yang terdiri dari 1 orang laki-laki yang bekerja sebagai petugas kebersihan, 1 orang laki-laki dhuafa lanjut usia, dan 1 orang perempuan yang bekerja sebagai pemulung sampah.




Terima kasih kepada Para Donatur, Kontributor dan Para Sahabat Majelis, khususnya yang telah memberikan dukungan sehingga kegiatan Silaturahim Majelis Ilmu 114 ke-10 Tahun 1435-1436H / 2014M dapat terlaksana.

InsyaAllah upaya yang telah kita lakukan bisa bermanfaat besar, istiqamah, menjadi barakah untuk kita dan keluarga kita serta bernilai ibadah.

Walhamdulillahi Rabbil Alamin

Salam ShemangatzZz,

Imam Majelis Ilmu 114

* * *

Sunday, November 2, 2014

MAYSIR, GHARAR & RIBA


Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu.
(QS. Al Baqarah (2) Ayat 168).

Maysir

Allah SWT berfirman dalam Qur'an Surah Al-Baqarah ayat 219: "Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan maysir (judi). Katakanlah: "Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya…,"

Kemudian Allah SWT berfirman kembali dalam Qur'an Surah Al-Maidah ayat 90: Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.

Dengan demikian maka telah jelas bahwa maysir atau perjudian dan bentuk lain dari permainan undi nasib adalah haram hukumnya, meskipun ada beberapa manfaat didalamnya bagi segelintir orang. Oleh karena itu meskipun judinya hanya dengan jumlah uang yang sedikit, maka hukumnya tetap haram. Dalam istilah lain bisa saja judi itu disebut "taruhan", namun apapun istilahnya, selama prinsipnya adalah sama dengan judi dan undi nasib, maka hukumnya tetap haram.

Gharar

"Rasulullah SAW melarang jual beli yang mengandung gharar". (HR. Muslim, Tirmizi, Nasa'i, Abu Daud, dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah).

Ibnu Taimiyyah menyatakan bahwa al-gharar adalah yang tidak jelas hasilnya. Ketidakjelasan tersebut mencakup transaksi yang tidak jelas aturannya sehingga menimbulkan ketidakrelaan dan bisa merugikan salah satu pihak.

Jual beli barang yang belum ril wujudnya dan bersifat spekulasi adalah gharar. Misalnya menjual janin ternak yang tidak diketahui kelahirannya kapan dan apa jenis kelaminnya, menjual tanah yang tidak diketahui batas-batasnya, dan lain sebagainya.

Dengan demikian, jika anda memberikan uang kepada pihak tertentu, kemudian tidak jelas uang itu akan dikelola, diolah atau dikembangkan untuk apa dan bagaimana cara mengelolanya, tetapi pada akhirnya nanti anda dijanjikan bahwa  uang itu akan dikembalikan kepada anda dengan tambahan keuntungan tertentu, maka transaksi tersebut juga termasuk gharar.

Riba

Allah SWT berfirman dalam Qur'an Surah Al-Baqarah ayat 275-276: "Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa".

Kemudian dilanjutkan di ayat 278-279: "Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman.

Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertobat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya".

Dalam Qur'an Surah Ali-Imran ayat 130, Allah SWT berfirman: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan".

Selain itu, Allah SWT juga telah memberikan contoh dalam Qur'an Surah An-Nisa ayat 161: "dan disebabkan mereka (orang-orang Yahudi dan/atau Kafir) memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih".

"Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah" (Qur'an Surah Ar-Rum ayat 39).

Apakah hukum asuransi, tabungan, deposito, investasi dan transaksi keuangan lainnya dalam Islam ?

Apapun bentuk produk keuangan, baik itu asuransi, tabungan, deposito, investasi, dan bentuk lainnya, selama didalamnya terdapat Riba, praktek Maysir, maupun Gharar, maka sebaiknya tinggalkanlah.

Umat Islam senantiasa dituntun untuk mencari reziki dari sumber yang halal, dengan cara yang halal, dan pergunakanlah reziki itu untuk hal-hal yang dihalalkan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya.

Jika ada yang tidak jelas, atau yang meragukan anda, maka sebaiknya jangan ikuti yang ragu-ragu itu. Pilihlah hal-hal yang sudah jelas halalnya, dan tetaplah dijalan yang benar.

Allah SWT berfirman dalam Qur'an Surah Al-Baqarah ayat 147: "Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu". Oleh karena itu ikutilah tuntunan Al-Qur'an, tuntunan Hadits Shahih, dan tuntunan Para ulama yang Shaleh dalam menjalani kehidupan, termasuk didalamnya adalah dalam hal berniaga atau mencari reziki.

Solusi untuk memperkuat kondisi keuangan

Jika anda ingin mengikuti suatu produk keuangan sebagai bentuk ikhtiar memperkuat kondisi keuangan anda, maka ikutilah produk-produk atau transaksi keuangan dari lembaga syariah yang menerapkan prinsip syariah dengan benar, bebas dari praktek riba, gharar dan maysir.

Dalam mengikuti produk keuangan, luruskanlah niat. Jadikan ikhtiar dalam menjaga riziki pemberian Allah kepada kita sebagai tujuan. Pastikan proses transaksi dan pengelolaan keuangan yang anda ikuti itu jelas halalnya. Hindarilah segala sesuatu yang subhat (yang tidak jelas halal atau haram), dan yang utama adalah hindarilah segala bentuk usaha yang haram.

Allah SWT berfirman dalam Qur'an Surah Al-Baqarah ayat 284: "Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu".

Selain itu, beberapa hal yang bisa kita upayakan untuk memperkuat kondisi ekonomi kita adalah dengan cara jangan boros dalam membelanjakan harta, jangan kikir dengan harta yang kita miliki, tunaikanlah zakat, perbanyaklah sedekah, gemarlah berinfaq, dan jangan pernah mengambil sesuatu yang bukan hak kita.

Allah SWT berfirman dalam Qur'an Surah Al-Isra ayat 26 dan 27: " ….. dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya".

Kemudian Allah SWT berfirman dalam Qur'an Surah Al-Baqarah ayat 268: "Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui".

Selain itu, Allah SWT juga berfirman dalam Qur'an Surah Al-Baqarah ayat 188: "Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui".

Oleh karena itu ikutilah tuntunan Allah SWT sebagaimana firman-Nya dalam Qur'an Surah At Taghaabun ayat 16: "Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah; dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barang siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya maka mereka itulah orang-orang yang beruntung".

Dalam Qur'an Surah Al-Baqarah ayat 245, Allah SWT juga berfirman: "Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan". InsyaAllah dengan taat kepada Allah SWT, semua kebutuhan kita dan keluarga kita akan terpenuhi.

* * *

SILATURAHIM BULANAN MI-114 KE-9 TAHUN 1435H

Bismillah ar-Rahman ar-Rahim

Assalammua'alaikum Warahmatullahi Wabarakahtuh,

"Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian) ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?"
(Qur'an Surah Al Munafiqun ayat 10).

Alahmdulillahi Rabbil Alamin, Shalawat dan Salam kepada Rasulullah SAW beserta Para Pengikutnya, Umat Islam. Kegiatan Silaturahim Bulanan Majelis Ilmu 114 ke-9 Tahun 1435H telah diselenggarakan pada hari Sabtu, tarikh 2 Dzulhijjah 1435H / 27 September 2014 di sekitar area Gelora Bung Karno, Senayan, Kota Jakarta Selatan.

SL 9 MI-114 - 72 73 minisize

Beberapa kegiatan yang telah dilaksanakan dalam Silaturahim tersebut diantaranya adalah Shalat Berjama'ah, Makan bersama, Penyampaian Tafsir Qur'an Surah Az Zalzalah (download: https://soundcloud.com/majelis-ilmu-1/tafsir-surat-al-zalzalah), dan Penyaluran Infaq ke-72 s.d ke-76 kepada 5 orang Mustahiq yang terdiri dari 4 laki-laki yang bekerja sebagai pemulung dan 1 perempuan yang sudah lanjut usia, yang bekerja sebagai pedagang jamu gendong keliling, di sekitar area Gelora Bung Karno, Senayan, Kota Jakarta Selatan.

SL 9 MI-114 - 74 75 76 minisize

Terima kasih kepada Para Donatur dan Para Sahabat Majelis, khususnya yang telah memberikan dukungan sehingga kegiatan Silaturahim Majelis Ilmu 114 ke-9 Tahun 1435H / 2014M dapat terlaksana.

InsyaAllah upaya yang telah kita lakukan bisa bermanfaat besar, istiqamah, menjadi barakah untuk kita dan keluarga kita serta bernilai ibadah.

Walhamdulillahi Rabbil Alamin

Salam ShemangatzZz,

a.n Majelis Ilmu 114

Imam Majelis Ilmu 114

* * *

Wednesday, October 22, 2014

SILATURAHIM BULANAN MI-114 KE-8 TAHUN 1435H

Bismillah ar-Rahman ar-Rahim

 Assalammua'alaikum Warahmatullahi Wabarakahtuh,

 "Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat gandakan (pembayarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak".
(Al-Qur'an Surah Al Hadid ayat 18).

Alahmdulillahi Rabbil Alamin, Shalawat dan Salam kepada Rasulullah SAW beserta Para Pengikutnya, Umat Islam. Kegiatan Silaturahim Bulanan Majelis Ilmu 114 ke-8 Tahun 1435H telah diselenggarakan pada hari Ahad, tarikh 6 Dzulqadah 1435H / 31 Agustus 2014 di sekitar Taman Monumen Nasional (Monas), Kota Jakarta Pusat.

 SL 8 - 67 68 69 minisize

Beberapa kegiatan yang telah dilaksanakan dalam Silaturahim tersebut diantaranya adalah Shalat Berjama'ah, Makan bersama, Penyampaian Tafsir Qur'an Surah Al-Adiyat (download: https://soundcloud.com/majelis-ilmu-1/tafsir-al-adiyat), dan Penyaluran Infaq ke-67 s.d ke-71 kepada 5 orang Mustahiq (1 perempuan dan 4 laki-laki pemulung dan/atau tenaga kebersihan) di sekitar Taman Monumen Nasional (Monas), Kota Jakarta Pusat.

SL 8 - 70 71 minisize

Terima kasih kepada Para Donatur dan Para Sahabat Majelis, khususnya yang telah memberikan dukungan sehingga kegiatan Silaturahim Majelis Ilmu 114 ke-8 Tahun 1435H / 2014M dapat terlaksana.

InsyaAllah upaya yang telah kita lakukan bisa bermanfaat besar, istiqamah, menjadi baraqah untuk kita dan keluarga kita serta bernilai ibadah.

Walhamdulillahi Rabbil Alamin
 Salam ShemangatzZz,
 Imam Majelis Ilmu 114

 * * *

SILATURAHIM BULANAN MI-114 KE-7 TAHUN 1435H

Bismillah ar-Rahman ar-Rahim

 Assalammua'alaikum Warahmatullahi Wabarakahtuh,

 "Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Qur'an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong".
(Al-Qur'an Surah Al Hajj ayat 78).

Alahmdulillahi Rabbil Alamin, Shalawat dan Salam kepada Rasulullah SAW beserta Para Pengikutnya, Umat Islam. Kegiatan Silaturahim Bulanan Majelis Ilmu 114 ke-7 Tahun 1435 telah diselenggarakan pada hari Sabtu, tarikh 14 Ramadhan 1435H / 12 Juli 2014 di Kota Depok.

 SLB MI-114 KE-7 - minisize

Beberapa kegiatan yang telah dilaksanakan dalam Silaturahim tersebut diantaranya adalah Shalat Maghrib, Isya dan Tarawih berjama'ah di Masjid Dian Al Mahri  / Masjid Kubah Emas dan penyaluran Zakat Mal dan Infaq untuk Anak-Anak Fakir Miskin melalui Yayasan DOMYADHU (Dompet Yatim dan Dhu'afa), di Kota Depok.

Terima kasih kepada Para Donatur dan Para Sahabat Majelis, khususnya yang telah memberikan dukungan sehingga kegiatan Silaturahim Majelis Ilmu 114 ke-7 Tahun 1435H / 2014M dapat terlaksana.

InsyaAllah upaya yang telah kita lakukan bisa bermanfaat besar, menjadi baraqah untuk kita dan keluarga kita serta bernilai ibadah.
 Walhamdulillahi Rabbil Alamin
 Salam ShemangatzZz,
 Imam Majelis Ilmu 114

* * *

Sunday, July 20, 2014

RAIH TAQWA RAMADHAN

Bismillah ar-Rahman ar-Rahim
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,
(QS. Al Baqarah (2) Ayat 183).
Taqwa
Orang-orang yang bertaqwa adalah orang-orang yang hidup sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an. Allah SWT berfirman dalam Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 2-5:
“Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka, dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.”.
Salah satu bukti kegembiraan umat Islam dalam menyambut Ramadhah adalah dengan mewarnai hari-hari di dalam bulan Ramadhan dengan belajar dan mengajarkan Qur’an.
Qur’an bukan cuma di baca, tetapi juga difahami maknanya. Qur’an bukan cuma di lisan tetapi juga diamalkan dengan perbuatan.
Ramadhan menjadikan Umat Islam sebagai Umat yang bijaksana.
Allah SWT berfimran dalam Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 184:
“… Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. … “.
Allah SWT memberikan keringanan kepada kita, sesuai dengan kondisi kita, meskipun terhadap sesuatu yang Ia wajibkan. Salah satu implikasi nilai ini dalam membangun system kehidupan adalah seorang pemimpin, baik dalam lingkup keluarga, lingkungan, organisasi, ataupun Negara haruslah bijak dalam memahami kondisi umat yang dipimpin.
Jangan gunakan kemampuan dan kewenangan anda untuk mempersulit dan menghambat kebaikan bagi orang lain. Boleh tegas, boleh disipilin, tetapi jangan memaksakan sesuatu kepada seseorang diluar dari kemampuannya. Umat Islam harus bijaksana. Tetapi keringanan bukan berarti lepas tanggung jawab. Penuhi kewajiban puasa dan jadilah umat yang bertanggung jawab.
Ramadhan menjadikan Umat Islam sebagai Umat yang bertanggung jawab.
Puasa yang anda tinggalkan harus anda ganti. Ini adalah tuntan Islam kepada kita umat Islam. Kita dituntun untuk menjadi orang yang bertanggung jawab.
Jangan jadi umat yang lemah. Jangan hanya karena ngantuk, kita tinggalkan ibadah sahur. Jangan hanya karena sibuk kerja, belajar, atau aktivitas lainnya, kita rela tinggalkan shalat. Jangan hanya karena lapar, kita nekad merampas hak orang lain. Jangan karena nafsu, kita biarkan diri kita terjerumus dalam perbuatan maksiat.
Segala sesuatu yang kita perbuat harus kita pertanggung jawabkan. Segala sesuatu yang telah Allah wajibkan kepada kita, harus kita penuhi. Dan segala sesuatu yang telah Allah haramkan kepada kita, harus kita tinggalkan.
Jadilah umat islam yang bertanggung jawab. Jadilah umat yang lebih takut kepada dosa daripada takut kepada resiko kerugian di dunia. Jadilah umat yang lebih takut kepada Allah SWT, daripada takut kepada bos, atau manusia yang berkuasa.
Ramadhan menjadikan Umat Islam sebagai Umat yang ikhlas dalam berbagi kebaikan.
Allah SWT berfimran dalam Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 184: “ … Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barang siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”.
Salah satu kompensasi terhadap kewajiban puasa adalah dengan berbagi kebaikan. Umat Islam selalu dituntun untuk menyebar manfaat. Orang yang sukses puasanya adalah orang yang kegemarannya untuk membantu fakir miskin terus semakin meningkat setelah Ramadhan. Dan yang utama adalah semuanya dilakukan karena Allah SWT. Itulah ikhlas, dan untuk itulah kita puasa.
Ikhlas adalah melakukan sesuatu karena Allah SWT, bukan karena yang lain. Jadilah kita umat yang rela untuk tinggalkan segala sesuatu karena Allah SWT, dan jangan pernah tinggalkan Allah SWT karena sesuatu.
Ramadhan menjadikan Umat Islam sebagai Umat yang bersyukur.
Allah SWT berfimran dalam Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 185: “ … Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya (puasa) dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.”.
Banyak hal dalam puasa yang mengarahkan kita untuk menjadi insan yang selalu bersyukur. Disaat berbuka puasa, kita bisa merasakan ni’mat makan dan minum yang mungkin dalam beberapa waktu kita abaikan. Orang baru bisa merasakan ni’matnya makan dan minum ketika dia sudah merasakan lapar. Jika tidak ada kewajiban puasa, maka boleh jadi orang-orang yang mampu dan kaya akan lupa untuk mensyukuri ni’mat makan dan minum, disebabkan karena mereka tidak pernah dalam kondisi lapar.
Perbanyaklah mengucap Alhamdulillah, karena kita masih sehat, karena kita masih bisa merasakan ni’matnya menjadi muslim bersaudara yang bisa menghidupkan hari-hari di bulan Ramadhan dengan Tarawih dan Tadarus bersama.
Pesan Nabi SAW dan Keutamaan Ibadah Puasa Ramadhan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Shaum itu benteng, maka (orang yang melaksanakannya) janganlah berbuat kotor (rafats) dan jangan pula berbuat bodoh. Apabila ada orang yang mengajaknya berkelahi atau menghinanya maka katakanlah aku sedang shaum (ia mengulang ucapannya dua kali).
Dan demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh bau mulut orang yang sedang shaum lebih harum di sisi Allah Ta’ala daripada harumnya minyak misik, karena dia meninggalkan makanannya, minuman dan nafsu syahwatnya karena Aku (Allah swt).
Shaum itu untuk Aku dan Aku sendiri yang akan membalasnya dan setiap satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kebaikan yang serupa”.
(HR. Bukhari nomor 1761).
Suatu hari Rasulullah SAW didatangi oleh seorang wanita kafir. Ketika itu Rasulullah SAW sedang bersama beberapa orang sahabat. Wanita itu membawa beberapa buah jeruk dan diberikan kepada Rasulullah SAW.
Sekilas tampak buah jeruk yang diberikan itu sangat segar dan siapa pun yang melihatnya pasti tergiur. Rasulullah SAW menerimanya dengan senyum. Buah itu dimakan oleh Rasulullah SAW dan kemudian Beliau tersenyum.
Biasanya Rasulullah SAW selalu membagikan makanannya kepada para sahabat agar bisa ikut makan bersama, namun kali ini tidak. Tidak satupun jeruk itu diberikan kepada para Sahabat. Rasulullah SAW terus makan dan tersenyum kepada wanita itu. Beberapa saat kemudian, wanita itu pun pergi, diiringi ucapan terima kasih dari Rasulullah SAW.
Sahabat-sahabat agak heran dengan sikap Rasulullah SAW itu. Lalu mereka bertanya mengapa Beliau tidak membagikan makanan yang Beliau makan tersebut kepada Para Sahabat sebagaimana biasa. Dengan tersenyum Rasulullah SAW menjelaskan:
“Ketika saya makan jeruk itu, ternyata rasanya sangat masam. Saya khawatir jika kalian makan buah itu, boleh jadi ada di antara kalian yang akan marah atau membuang dan menolak memakan buah itu, sehingga wanita itu akan tersinggung. Oleh karena itu, saya habiskan semuanya.”.
Demikianlah akhlak Rasulullah SAW yang sangat luar biasa bijak dan sabar. Beliau tidak marah dan tetap menghargai orang yang sudah memberikan sesuatu kepada Beliau, meskipun pemberian itu buruk.
Jika kita membalas pukulan dengan pukulan, maka boleh jadi tindakan itu dianggap adil. Tetapi ketika kita tidak membalas menyakiti orang yang telah menyakiti kita, maka disitulah terdapat nilai tambah keimanan yang menjadikan derajat diri kita menjadi lebih mulia di sisi Allah SWT.
Jika Aqidah Islam yang diserang dan/atau keselamatan jiwa yang diserang, maka menghentikan serangan itu merupakan tindakan jihad yang bernilai ibadah. Tetapi jika hanya emosi kita yang diserang, maka membalas serangan itu boleh jadi tidak akan memberi manfaat untuk kita.
Meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat, adalah anjuran Islam. Sesungguhnya orang yang kuat bukan orang yang bisa menang melawan setiap lawannya, tetapi lebih dari itu, orang yang kuat adalah yang bisa menang melawan hawa nafsu dan emosinya.
InsyaAllah dalam bulan Ramadhan ini, kita bisa melatih diri untuk menjadi orang-orang yang sabar dan bijak dalam menghadapi setiap persoalan. InsyaAllah dalam bulan Ramadhan ini kita bisa menjadi orang-orang yang terbiasa berlaku ihsan, yaitu berlaku lebih baik / membalas keburukan dengan kebaikan.
Jika kita sudah bisa berbuat ihsan dalam bulan Ramadhan, maka InsyaAllah setelah bulan Ramadhan, kita akan terbiasa untuk berbuat ihsan. Sesungguhnya bulan Ramadhan adalah masanya kita latihan, dan sebelas bulan berikutnya adalah masanya kita berjihad, utamanya adalah melawan hawa nafsu.
Begitu banyak orang yang terjatuh kedalam dosa, tidak lain disebabkan karena mereka tersandung oleh hawa nafsu. Begitu banyak orang yang tersandung oleh hawa nafsu, tidak lain disebabkan karena mata mereka telah terpana oleh dunia.
Allah SWT berfirman dalam Qur’an Surah Ali – Imran (3) ayat 14-17:
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).
Katakanlah: “Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?” Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dikaruniai) istri-istri yang disucikan serta keridaan Allah: Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.
(Yaitu) orang-orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka,”. (yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur.
Untuk itu, perbanyaklah beristighfar pada waktu sahur. Beberapa dzikir, istighfar, dan do’a yang InsyaAllah bermanfaat untuk kita amalkan, khususnya di bulan Ramadhan adalah sebagai berikut:
Asyhadu alla ilaha illa Allah
“saya bersaksi bahwa tiada Tuhan yang disembah melainkan Allah”.
Astaghfirullah
“saya mohon ampun kepada Allah”.
Allahumma inna as alukal jannata wa a’udzubika minan naar
“Wahai Tuhanku. sesungguhnya aku memohon surga kepadaMu dan aku berlindung kepadaMu dari siksa neraka”.
Allahumma innaka ‘afuwwun
tuhibbul ‘afwa fa’fu anna
“Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf yang menyukai permintaan maaf, maka saya mohon maafkanlah saya”.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Dalam surga ada satu pintu yang disebut dengan Ar‐Rayyan, yang pada hari qiyamat tidak akan ada orang yang masuk ke surga melewati pintu itu kecuali
para shaimun (orang‐orang yang berpuasa). Tidak akan ada seorangpun yang masuk melewati pintu tersebut selain mereka. Lalu dikatakan kepada mereka; Mana para shaimun, maka para shaimun berdiri menghadap. Tidak akan ada seorangpun yang masuk melewati pintu tersebut selain mereka. Apabila mereka telah masuk semuanya, maka pintu itu ditutup dan tidak akan ada seorangpun yang masuk melewati pintu tersebut”. (HR. Bukhari nomor 1763).
InsyaAllah kita bisa memaksimalkan ibadah kita dalam bulan Ramadhan dengan ikhlas, untuk Allah SWT. InsyaAllah setiap ibadah kita mendapat ridha dari Allah SWT. Dan InsyaAllah kita termasuk orang-orang yang dapat melewati pintu Ar‐Rayyan pada hari kiamat nanti.
Walhamdulillahi Rabbil Alamin.
* * *